4 Pesan Silatnas Ke 10 IIBF

  by

Surabaya, 10 November 2019. Sebagai komunitas pengusaha yang memilih fokus pada merubah cara bermain pengusahanya dengan jalan pembangunan karakter, IIBF kini telah genap 10 tahun berkiprah, ribuan pengusaha bangkit dari keterpurukan hidup dan sulitnya membangun usaha, melahirkan banyak pengusaha baru, serta terus menebar “virus” entrepreneurship ke berbagai lapisan masyarakat tak terkecuali pemerintah.

Karena entrepreneurship bukan hanya milik para pengusaha tetapi juga harus dimiliki pemerintah. Singapore tidak mungkin bisa berkembang jika Lee Kuan Yew tidak memiliki jiwa entrepreneurship.

Ada empat hal penting yang diamanatkan Presiden IIBF Ir. H. Heppy Trenggono, M. Kom kepada seluruh kader dan perserta Silatnas yang hadir di DBL Arena, Surabaya. Adapun empat hal amanat penting itu, yaitu :

Pertama, Hidupkan Semangat Membangun Bisnis dan Menguasai Ekonomi.

Indonesia dengan populasi 86 persen muslim namun secara ekonomi masih sangat jauh tertinggal hari ini. Penjajah menjauhkan umat dari dua hal, yakni politik dan ekonomi. Kamu boleh istighosah, berzanjen, tahlilan yang penting jangan berdagang karena itu sudra. Mereka men-downgrade muslim pada level terendah. Di Indonesia, ekonomi hari ini kita tidak pegang apa-apa. Zero dalam hal ekonomi.

Di sinilah IIBF hadir sebagai kebangkitan karakter Muslim Indonesia. Konsepnya ingin membangun pengusaha-pengusaha yang pinter bisnis sebagaimana pebisnis kelas dunia dan berperilaku sebagaimana muslim yang bertakwa. Karena membangun tidak ada yang mudah. Kenyataannya tidak ada entrepreneur yang sukses hanya dalam satu kali percobaan. Kesuksesan itu mereka raih setelah berulang-ulang kali mengalami kegagalan. Dibutuhkan semangat, keyakinan dan kesabaran dalam membangun.

Hidupkan semangat membangun bisnis dan menguasai ekonomi. Kalau tidak pegang dunia (kaya) kita akan kehilangan banyak kesempatan untuk berbuat baik, kehilangan kesempatan untuk banyak mengambil tanggungjawab sosial jika tidak memegang ekonomi. Tentu berbeda orang yang melakukan perubahan dengan mereka yang hanya berdiam diri. Di akherat kelak akan ditanya dari mana kita dapat dan bagaimana membelanjakannya. Lah bagaimana kalau tidak ada apa-apa, bagaimana mau ditanya? Ya sudah masuklah kita dalam golongan biasa-biasa saja. Bayangkan betapa bahagianya jika dengan masa perhitungan yang lama namun semuanya adalah prestasi di hadapan Allah.

Jadi pengusaha IIBF tidak usah pamer. Banyaklah berserah diri pada Allah. Karena Allah akan uji kalian terhadap apa yang kalian pamerkan.

Kedua, Jadikan IIBF Sebagai Sebuah Keluarga yang Saling Mencintai dan Mendukung.

Jadi lah pengusaha yang rendah hati dan terus bergerak membantu yang lain. Ini lah IIBF, The House of Friends, Place of Hope.

IIBF ada bukan untuk menghakimi atau menyalahkan orang lain. IIBF ada untuk menjadi tempat pada pebisnis membicarakan masalah bisnisnya, masalah kehidupannya termasuk kesalahan yang pernah diperbuat di masa lalu. Setiap anggota IIBF apalagi Foster, VCoach, Ambassador harus memiliki sikap acceptance. Sikap menerima semua yang datang, mendengar apa yang mereka sampaikan bukan lantas diceramahi apalagi dihakimi. Mereka sudah sering disalahkan, sudah pernah dihakimi, maka ketika mereka datang ke IIBF harus diterima dan diperlakukan sebagai saudara, layaknya sebuah keluarga yang saling mencintai dan saling mendukung.

Soal orang ini berubah atau tidak bukan urusan kita. Karena perlu hidayah untuk berubah dan itu hak preprogatif Allah yang akan diberikan kepada siapapun yang dikehendakiNya. Tugas kita adalah berusaha menyamakan dengan ayat-ayatnya dan semoga Allah berikan hidayah itu.

Jadikan IIBF sebagai tempat kalian curhat, saling berbagi, saling membantu satu sama lain. Jadikan IIBF sebagai harapan mereka.

Bisnis itu bukan popularity contest, membangun bisnis butuh perjuangan, kadang gampang kadang sulit. Jangan suka pamer di IIBF, karena ketika kalian pamer bisa jadi ada temen kalian yang urung mengungkapkan masalahnya.

Jangan menjadikan pujian sebagai tujuan kalian. Tidak usah ingin terkenal, ingin terkenal hanya akan membuat kalian sulit dan kehilangan fokus dalam membangun bisnis. Kemuliaan itu letaknya bukan di atas panggung, tetapi adanya di 1/3 malam.

Ketiga, Percayalah Pada Pembangunan Karakter.

Indonesia mengikat kita pada satu titik, bahwa ada yang harus kita perjuangkan selain diri kita sendiri. Indonesia tidak membutuhkan pengusaha, kalau dia cuma pengusaha saja. BLBI itu triliyunan hilang karena dibawa oleh orang yang namanya pengusaha. Yang kita butuhkan adalah pengusaha pejuang, yakni pengusaha yang mau memikirkan Indonesia, yang mau memikirkan umat. Ini yang harus kita bangkitkan.

Namun ada sesuatu yang hilang dari perbendaharaan kehidupan bangsa Indonesia hari ini. Sesuatu yang sering diucapkan oleh banyak orang tetapi tidak dimiliki oleh bangsa ini. Sesuatu itu adalah Karakter.

Tidak adanya karakter dalam kepribadian bangsa ini membuat berbagai teori dan strategi tidak ada yang bisa berjalan dengan baik. Orang beramai-ramai meninggalkan (logika) pembangunan karakter dan bergeser ke kutub berlawanan, (logika) pembangunan citra/brand/merek.

Percayalah pada pembangunan karakter. Karena karakter akan membuat sebuah perusahaan atau sebuah bangsa memiliki masa depan. Orang-orang besar dalam sejarah adalah orang yang memiliki karakter dan memiliki komitmen untuk membangun karakter bangsanya. Bahkan Rosulullah SAW, membawa risalah Islam adalah untuk membangun karakter ummat manusia. Dalam ucapannya yang sangat terkenal “Sesungguhnya aku diutus kepadamu semua untuk menyempurnakan akhlak (karakter)”.

Keempat, Selalu Ingat Pada Tugas Kepemimpinan.

Sudah menjadi ketetapan-Nya, kita terlahir sebagai pemimpin di dunia ini. Dan kita kan dimintai pertanggung jawaban atas apa yang dipimpin tak peduli apa strata pendidikannya dan dari mana sukunya berasal. Entah di lingkungan organisasi maupun lingkup keluarga tercinta, atau dalam skala yang lebih kecil lagi, yakni diri kita sendiri.

Hidup ini sangat singkat, terlalu berharga jika dibiarkan berlalu begitu saja, segera ambil tanggung jawab yang besar. Manusia diukur dari seberapa besar, dari seberapa banyak masalah yang mampu diemban dan selesaikan. Itu lah panggilan kepemimpinan. Semakin memilih tanggung jawab yang besar dengannya kita akan semakin karuniai kualitas hidup yang lebih baik. Pernahkah melihat orang yang hebat namun tidak memiliki tanggung jawab yang besar dalam hidupnya? Jangan sia-siakan hidup anda, lakukan lah hal-hal yang berguna.

Menjadi pengusaha sukses adalah impian kita semua. Namun bagaimanapun kondisinya saat ini satu hal yang tak boleh luput adalah seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan bagi lingkungan kita. Itulah tugas kepemimpinan termasuk didalamnya untuk berbuat baik, untuk membantu orang lain kapan pun dan dimanapun, dan dalam kondisi apapun. Sedekah bukan dari orang yang punya kepada orang yang tidak mampu, tetapi dari orang yang mau kepada yang membutuhkan.

Ada sebuah doa yang sangat popular di kalangan pengusaha khususnya IIBF, didalamnya kita meminta perlindungan dari kebingungan, kesedihan, ketidakberdayaan dan kemalasan bahkan meminta perlindungan dari kepengecutan dan kekikiran, semua itu erat hubungannya dengan tugas kepemimpinan.

Ketika orang lain datang meminta bantuan dan kita menolak, itulah pengecut. Ketika saudara kita dalam kesulitan dan berharap bantuan kita dan kita abai itulah pengecut. Apakah kita bisa menolong? Tidak, hanya Allah yang dapat melakukannya, kita hanya perantara (jika diizinkan). Sebab itulah kita perlu berlindung dari kebingungan, kesedihan, ketidakberdayaan kemalasan, kepengecutan dan kekikiran agar kita bisa menjalankan tanggung jawab kemimpinan termasuk didalamnya berlindung dari lilitan hutang dan penindasan orang. Kita mengenalnya sebagai doa lunas hutang.

Ingat saudaraku, sebagai seorang pengusaha, hendaklan bisnis yang hari ini kita bangun menjadi bagian dari menggambil tanggungjawab sosial, mengambil tugas kepemimpinan yang kontribusinya dirasakan hadir di tengah persoalan yang dihadapi masyarakat sebagai bentuk komitmen dan rasa syukur pada Allah Swt untuk membangun agama dan bangsa. ANS