ISMEA Ingin Sinergi Dengan IIBF Untuk Bina UMKM

  by

Jakarta, Desember 2018.  Di Indonesia, usaha UMKM mewakili jumlah kelompok usaha terbesar, yaitu 99,99 persen, juga terbukti menjadi katup pengaman perekonomian dimasa krisis. UMKM juga sektor usaha yang menyumbang kontribusi terbesar dalam menciptakan peluang kerja dalam negeri, 97 persen lapangan kerja diciptakan sector ini. Sayangnya perhatian pemerintah masih sangat rendah terhadap UMKM menurut DR. Endang Rudiantin selaku Ketua Umum Indonesia Small Medium Entreprises Association (ISMEA) ketika berkunjung ke IIBF kemarin (18/112).

Kedatangan kami kesini bersama teman-teman penggerak di ISMEA ingin mendapatkan wawasan apa langkah yang harus kami ambil dalam mengikapi gempuran e-commers asing, e-money asing terang Endang kepada Presiden IIBF yang di damping Direktur Kaderisasi IIBF Ahmad Nursodik.

Senada hal tersebut, Heppy mengungkapkan bahwa tantangan utama UMKM di Indonesia ada 2, yaitu struktural dan cultural.  Peran pemerintah sangat bereratan dengan structural.

“Melakukan impor ketika musim panen itu adalah persoalan struktur. Pencabutan subsidi, perizinan itu juga struktur” terang Heppy.

Rendahnya kesadaran pembelaan terhadap karya dan produk anak bangsa itu persoalan kultural. Padahal di Negara-negara maju penyerapan produk dalam negeri oleh pasar dalam negeri menjadi barometer, di kita masih bingung membedakan produk asing dan produk anak bangsa. Kandungan lokal itu wujud kebingungan.

“Apa iya kalau sebuah produk dengan kandungan lokal hingga 80 atau 100 persen bisa disebut produk anak bangsa? Toyota mengclaim 80 persen kandungan lokal. Lalu apakah jika 80 persen komponennya luar sudah pasti produk asing? Belum tentu kan. Maka kita harus benar dalam mendefinisikan apa itu produk Indonesia” Heppy menekankan.

Digerakan Beli Indonesia lanjut Heppy, mendefinisikan produk Indonesia adalah produk yang di buat di Indonesia dan dimiliki oleh orang Indonesia. Bahan baku bisa dari mana saja yang penting pemiliknya orang Indonesia. Ekonomi itu sederhana, bahan baku tidak boleh keluar, barang jadi jangan masuk, itu prinsipnya, jangan dibalik.

Kedua tantangan utama tersebut akan semakin mudah teratasi dengan keterlibatan pemerintah baik cultural terlebih lagi yang structural. Namun kita tetap bisa berpartisipasi dalam mengikis persoalan cultural yang menghambat UMKM bertumbuh. Beli Indonesia itu untuk membangun kesadaran nasional pentingnya sebuah pembelaan yang jelas dalam membangun ekonomi terang Heppy. Melalui komunitas-komunitas seperti ini kita galang rasa pembelaan, senasib dan seperjuangan dalam membangun ekonomi.

Di akhir pertemuan Endang juga mengutarakan kesiapan organisasinya untuk menggunakan platform e-money IIBF saat diluncurkan nanti, serta menyampaikan harapannya agar UMKM dibawah naungan ISMEA bisa didampingi dan bersinergi dengan pengusaha IIBF

“Kami berharap IIBF bisa memberikan pelatihan-pelatihan dan pendampingan bagi anggota ISMEA” pinta Endang mengakhir pertemuan. Untuk e-money IIBF sudah lama kami tunggu akhirnya.

“Dengan senang hati, IIBF siap support. Karena itulah yang menjadi ruh perjuangan kenapa IIBF ada, yaitu untuk membantuk pengusaha yang berbisnis sebagaimana pebisnis kelas dunia dan berprilaku sebagaimana muslim yang bertaqwa”, jawab Nursodik merespon permintaan ISMEA. ANS