Isu China Terlalu Besar Untuk Tidak Dibahas, Dunia Saja Kalang Kabut

  by

Jakarta, Juli 2019. Sejumlah pengusaha nasional seperti Nurhayati Subakat CEO Paragon Technology dan Inovasi (Wardah), Achmad Zaky CEO Bukalapak, Heppy Trenggono CEO Balimuda Group, para akademisi dari UI dan ITB serta beberapa komunitas pengusaha diundang oleh Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) dalam sebuah Focus Group Discussion (FGD) untuk membicarakan arah kebijakan pengembangan Entrepreneurship di Indonesia ke depan beberapa waktu lalu di Jakarta (4/7). Hal tersebut untuk membantu Presiden dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi dan indusrialisasi di Indonesia.

Dari sejumlah paparan tentang rencana arah kebijakan pengembangan entrepreneurship Indonesia ke depan  oleh Pokja Makroekonomi, Perdagangan dan Investasi, CEO Balimuda Group yang juga Pemimpin Gerakan Beli Indonesia mengkritisi ketiadaan kajian tentang hegemonicnya china dan pengaruhnya terhadap ekonomi maupun arah pengembangan kebijakan entrepreneurship ke depan.

“Mengapa isu ini (china) sama sekali tidak ada disentuh, kan harus ada kajian dong, dampaknya seperti apa, bagaimana strateginya, masak kita dibanjiri produk-produk mereka kita diam saja, bahkan ngomongpun tidak. Kalau ini tidak berbahaya Amerika tidak akan ngomong perang dagang. Itu ukurannya. “Kita bisa lihat semuanya, banjir semunya disini” terang Heppy menjelaskan penting kajian tersebut.

China berada di garis terdepan untuk mengkampanyekan pasar bebas saat ini, hingga produk-produk mereka terus membanjiri keberbagai negara di dunia. Lalu yang menjadi pertanyaan adalah dengan pasar bebas pula, apakah kita menjadi lebih mudah memasukkan produk ke China? Tidak, sangat sulit. Mereka menggunakan itu agar barang produksi mereka bisa keluar namun pemerintah sangat protektif terhadap pasar dalam negeri sehingga tidak mudah menjual produk ke sana. Mereka menyadari betul potensi pasar yang dimiliki diutamakan untuk para pelaku bangsanya sendiri. “Kita sedang membicarakan arah kebijakan entrepreneurship Indonesia ke depan tetapi isu (china) itu tidak disentuh sama sekali. Isu itu terlalu besar untuk tidak kita bahas, sangat sentral, dunia saja kalang kabut” pungkas Heppy Trenggono. ANS