Jika Tak Ada Lagi Yang Peduli Dengan Sejarahnya, Maka Hilangnya Bangsa Indonesia Hanya Soal Waktu

  by

Jakarta, 2 Maret 2020. Sejumlah tokoh lintas disiplin ilmu tampak hadir memenuhi ruangan diskusi atas prakasa dari Masyarakat Peduli Sejarah terkait ‘maraknya’ kesalahan penulisan sejarah yang harus diluruskan (peristiwanya ada tetapi diplesetkan atau diplintir) bahkan ada yang menjurus pada pemalsuan sejarah, tidak ada peristiwanya tetapi dikarang ada peristiwa itu, beberapa waktu lalu di Jakarta Selatan (29/2). Tampak hadir pakar sejarah Prof. Dr. Taufik Abdullah, Prof. Salim Said, Mantan Mekopolhukam era Jokowi, Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno, Prof. Marten Napang, Prof. Suwandi, Batara R Hutagalung, peneliti sejarah yang telah berhasil memenangkan gugutan atas pemerintahan Belanda terkait pembantaian di Rawagede juga Presiden Indonesian Islamic Business Forum (IIBF), Ir. Heppy Trenggono.

Dalam paparan pengantar diskusi, Batara R Hutagalung, memaparkan beberapa kisah sejarah namun tidak pernah diajarkan di buku-buku sejarah. Diantaranya adalah pertempuran 28-29 Oktober 1945, 30 Oktober Jenderal Malaby terbunuh. Padahal inilah yang melatar belakangi terjadinya perang 10 Nov 1945, antara Inggris sebagai pemenang perang dunia kedua yang diboncengi Belanda melawan arek-arek suroboyo dan sekitar.

Selain itu Batara mensinyalir adanya upaya pemalsuan sejarah seputar perang 10 Nov 1945, misalnya dokter-dokter china yang membuka posko, atau adanya pasukan Poo Ang Tui yang ikut berperang melawan Inggris.

“Dalam agresi militer Belanda kedua (19 Desember 1948) saja, laskar Poo Ang Tui bersama dengan tantara KNIL (pribumi yang bekerja untuk belanda) masih berberang dipihak belanda. Dan baru sekarang muncul seolah ikut berperang dalam barisan pasukan cungking dengan bendera mirip Vietnam dalam pertempuran 10 November 1945 dan berada di pihak Indonesia. Kan tidak masuk akal ini. Sudah saya tanyakan ke angkatan 45, tidak ada itu” terang Batara.

“soal klaim wali songo berasal dari china, itu hanya ‘akal-akalan’ dari pihak intelejen pemerintah Kolonial Belanda dengan tujuan untuk memecah belah umat Islam. Sumber awalnya dari buku Tuanku Rao yang ditulis Mangaradja Onggang Parlindungan dikenal senagai MOP, kemudian buku itu dikutip oleh oleh Prof. Benedictus Slamet Muljana dengan bukul judunya adalah ‘Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam Di Nusantara’. Di buku ini Slamet Muljana, mengutip yang ada di buku MOP, yang merupakan lampiran ke 31, dari halaman 650-672. Jadi, dikutip penuh oleh Prof. Slamet Muljana. Di buku MOP dijelaskan sumbernya adalah catatan tangan ayahnyam sultan martua raja yang mendapat dari catatan tangan seorang residen belanda bernama Poortman tahun 1905 di sipirok. Kemudian dia dikatakan sebagai kepada dinas intelejen politik di jaman penejajah”. Ungkap Batara memberikan penjelasan.

Senada hal tersebut para tokoh juga banyak menuturkan peristiwa yang tidak dicatat dalam sejarah, bahkan tidak sedikit pula yang berbeda dengan yang hari ini beredar. Harus ada langkah-langkah yang bisa dilakukan jangan sampai yang memberontak seoalah menjadi korban, menudutkan pihak lain lagi padahal kejadiannya baru di tahun 1965 yang lalu.

Kegelisahan seolah makin memuncak dengan makin peliknya persoalan. Bukan saja kesalahan kutip atau salah tulis tokoh tetapi juga sejarah bangsa ini belum bisa menjadi ruh dalam memberikan dorongan pembangunan karakter bangsa terlebih bagi generasi muda saat ini. Seolah terpisah. Mereka tidak lagi tahu kehebatan Kertanegara dalam mengusir pasukan Kubilai Khan, hebatnya Samudara Pasai, Sriwijaya, Majapahit, Ternate Tedore, Perang Padri, Perang Diponegoro yang membuat Belanda (VOC) hamper bangkrut.

Banyak kisah heroism yang ditunjukkan pada pendahulu bangsa ini. Ini harus dihidupkan. Tidak usah jauh-jauh, dalam pertempuran 10 Nov saja misalnya, kita berhasil mengalahkan negara pemenang perang dunia kedua. Di papua barat kita menang melawan Amerika.

Pemimpin Gerakan Beli Indonesia Heppy Trenggono pada kesempatan tersebut menyampaikan “Tidak ada suatu bangsa yang kebangkitannya terlepas dari sejarah. Jerman kembali ke kegemilangan sejarah bangsanya. China pun sama, jalur sutra menjadi spirit dengan narasi yang berbeda saja, kita kenal OBOR namanya”.

Selepas perang dunia pertama, presiden Amerika mengumpulkan seluruh jenderalnya, “bagaimana cara menaklukan sebuah bangsa?” tanyanya pada para jenderal. Serentak mereka menjawab, “berperang”. “Bagaimana menaklukan sebuah bangsa tanpa berperang?. Kalian bisa menangkan peperangan dan mengahabisi suatu negeri tapi yakinlah dikesempatan yang akan datang mereka akan bangkit, tetapi kalau kalian habisi sejarahnya, kalian bisa anggap bangsa itu tidak pernah ada.

Sehingga penting bagi bangsa Indonesia untuk memiliki sebuah Lembaga kajian, Lembaga riset sejarah yang diisi oleh para ahli lintas keilmuan yang akan menggali, mencatat, mendokumentasikan sejarah bangsa Indonesia dari persepektif bangsa ini, tidak lagi dari perspektif asing atau penjajah.

“Jika tak ada lagi yang peduli dengan sejarahnya, maka hilangnya bangsa Indonesia hanya soal waktu” demikian ditegaskan oleh Heppy Trenggono. Ans