Mengapa di Jepang Target Hampir Selalu Terlampaui?

  by

Hari ini (29/6) setelah menyelesaikan game ‘Total War’ kami peserta pengajian Al Aqobah IIBF yang datang dari berbagai daerah di Indonesia mendapat insight perihal game yang baru saja kami mainkan dari presiden IIBF Heppy Trenggono.

Permainan dilakukan berkelompok, dan masing-masing anggota memiliki peran yang harus dijalankan ketika mendapat serangan dari kelompok lain. Ada yang bertugas menyiapkan pasukan, ada yang bertugas mengisi peluru, mengokang senjata, membidik sasaran dan melakukan tembakan. Urutan harus benar atau akan dikalahkan oleh group lain.

Pertama, milikilah analogi dalam berbisnis. Sebagai seorang pengusaha kita boleh memberikan analogi sendiri-sendiri dalam menjalankan usahanya tuturnya, namun orang yang memenangkan selalu memiliki analogi.

Anda boleh menganggap bisnis itu seperti perang, anda boleh menganggap bisnis itu benar-benar hanya duit. Kalau saya selalu bilang, business is only a game jelas Founder Balimuda Group itu. Nah untuk memenangkan permainan kita perlu tahu aturan mainnya tambahnya.

Persoalannya adalah sebagai pengusaha muslim terkadang memilih analogi yang salah. Karena takut berkompetisi akhir sibuk mencari usaha yang tidak ada pesaingnya. Padahal barang siapa mencari bisnis yang tidak ada pesaingnya dia akan menemukan bisnis yang tidak ada pembelinya, jelas peraih Tokoh Perubahan Indonesia tahun 2011 oleh Harian Republika tersebut.

Sebagai seorang pebisnis, sudah jadi naluri kita untuk melihat setiap masalah sebagai suatu tantangan. Kesempatan untuk mengembangkan bisnis akan jadi jauh lebih menarik kalau ada tantangan yang menyertai.

Ketiadaan kompetitor sesungguhnya menjadi hal buruk bagi suatu bisnis. Tengoklah bagaimana persaingan dua minimarket yang kini menjamur di berbagai daerah di Indonesia, di mana ada salah satunya, kompetitornya akan buka di sebelah atau tidak jauh dari itu. Nyatanya kedua perusahaan tersebut berhasil maju dan menguasai jaringan minimarket di Indonesia karena selalu ingin mengungguli kompetitor bisnisnya.

Karena keberadaan kompetitor justru membantu dalam banyak hal seperti menuntun kepada siapa target marketnya, juga harga jual produk harus di kisaran berapa.

Kedua, tak ubahnya menjalankan sebuah bisnis, dalam bermain total war jelasnya harus berani bersaing, berani mengejar musuh, berani menentukan target, berani berjualan yang dengannya setiap orang harus mengerjakan tugasnya. Tapi satu hal yang selalu menjadi persoalan adalah karena orang yang menduduki posisi tidak melakukan apa yang harus dilakukan.

Penjualan tidak pernah mencapai angka-angka yang diharapkan, target sekedar target padahal memiliki banyak orang salesnya. Mengapa seolah target sekedar target? Mengapa bagitu banyak dari kalangan pelaku UMKM di Indonesia khususnya target tanya yang tidak tercapai? dari 1 milyar per bulan target tercapai 650jt, bahkan ada yang cuma mencapai 50jt bahkan kurang dari itu.

Di sisi lain di Jepang setiap target yang diberikan hampir selalu terlampaui, mengapa? karena ada sebuah budaya, budaya tersebut saya sebut culture of accountability terangnya, yaitu setiap orang harus menyelesaikan misinya, dan setiap orang harus perform.

Maka disiplin menurutnya bukan semata datang jam 8 pagi pulangnya jam 17 sore tetapi tetapi disiplin adalah melakukan apa yang harus dilakukan.

Tak lupa dalam penutupnya pemimpin gerakan Beli Indonesia itu mengajak agar ke depan melalui bisnis-bisnisnya para pengusaha muslim ikut membangun agama dan ikut membangun Negara Indonesia. Ans