Pemprov Jatim Setuju Beli Indonesia : Produk UMKM Jatim Harus Diberi Kesempatan

  by

Surabaya, 9 November 2019. Kang Emil, sapaan khas dari Emil Elistianto Dardak, mengaku gelisah dengan banyaknya “kebocoran” yang terjadi pada perekonomian Indonesia saat ini. Kebocoran yang dimaksud adalah tingginya angka komsumsi masyarakat yang dari impor bahkan berujung devisit perdagangan.

“Selama yang dikonsumsi masyarakat adalah produk dalam negeri maka itu akan memberi manfaat tetapi jika dipenuhi dari hasil impor maka itu namanya bocor” papar Emil yang juga seorang doktor bidang ekonomi pembangunan lulusan Ritsmeikan Asia Pacific University Jepang dalam diskusi bertajuk Beli Indonesia sebagai Strategi Ketahanan Nasional Menghadapi Globalisasi di DBL Arena, Surabaya (9/11).

Tantangan akan semakin berat, gempuran yang lebih luas akan segera datang sebab selain CAFTA (China – ASEAN Free Tread Asotiation), kita juga harus bersiap menghadapi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) atau Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional. Sebuah inisiatif perdagangan bebas di kawasan Asia – Pasifik antara sepuluh negara anggota ASEAN dan lima mitra FTA mereka seperti Jepang, Korea Selatan, Australia, New Zeland dan India terang Wakil Gubernur Jatim itu.

“Tidak hanya produk, jasa juga. Pertanyaannya bagaimana kita harus menghadapinya? Apakah harus dengan menutup diri. Tidak. Perdagangan bebas menjadi keniscayaan saat ini tetapi kita harus membangun kesadaran internal”, jelas Emil. Membangun kesadaran internal pentingnya membela dan mencintai produk lokal seperti yang dilakukan Beli Indonesia inilah yang harus banyak dilakukan.

“Saya bangga di sini minumnya “santi” salah satu produk lokal, karena di beberapa tempat termasuk di lingkungan pemerintahan daerah masih banyak yang memilih menggunakan produk multinasional company. Produk lokal harus mendapat kesempatan. Beberapa program telah dicanangkan pemprov jatim dalam upaya itu, dimulai dari pendampingan pengurusan merek yang tersebar di beberapa kabupaten di Jatim, juga akan bekerjasama dengan Lembaga terkait agar mempermudah proses perizinan bagi produk lokal seperti izin BPPOM, PIRT dll. Membangun di negeri sendiri jangan dipersulit tetapi harus di permudah”, tegas Emil.

Emil berharap diskusi ini jangan berhenti sampai diskusi saja, tetapi harus sampai tindak lanjutnya. “Kita punya program OPOP, One Pesantren One Product, saya berharap IIBF dan ISMI bisa memfasilitasi sehingga terdata lebih dari 1000 produk UMKM di Jawa Timur”.

Merespon hal itu presiden IIBF yang hadir saat itu menyampaikan komitmennya. “Jangankan 1000 jika digunakan masyarakat dan pemerintah, 2000 produk bisa kita data saat ini juga”.

Kalau kita sudah bisa bikin sendiri mengapa harus beli dari luar? “Tolong ingatkan saya, saya akan berupaya, selain dari penerbitan aturan yang memprioritaskan penggunaan produk UMKM, saya juga akan mulai menggunakan satu per satu. Kalau ada sepatu produksi lokal yang bagus katakan pada saya, saya akan beli”, pungkas Emil. ANS